Kalidoh 1932, Jejak Sejarah Sumber Kehidupan dari Lereng Ungaran

Terkini 09 Jun 2026 05:46 4 min read 72 views By Bang_Ali

Share berita ini

Kalidoh 1932, Jejak Sejarah Sumber Kehidupan dari Lereng Ungaran
Kalidoh bukan sekadar bangunan tua peninggalan kolonial. Ia adalah warisan sejarah, warisan lingkungan, sekaligus warisan sosial yang telah menghidupi masyarakat selama hampir satu abad.

ALMASSAKANUSANTARA.COM- Ungaran. Di lereng Gunung Ungaran, tersembunyi sebuah warisan berharga yang telah menghidupi ribuan warga selama hampir satu abad. Namanya Kalidoh. Bagi masyarakat Ungaran dan sekitarnya, Kalidoh bukan sekadar mata air, melainkan saksi sejarah panjang perkembangan Kota Semarang sekaligus sumber kehidupan yang terus mengalir tanpa henti sejak zaman kolonial.

 

Dibangun Belanda untuk Menjawab Krisis Air

Memasuki awal abad ke-20, Kota Semarang berkembang pesat sebagai kota pelabuhan sekaligus pusat pemerintahan di Jawa Tengah. Pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi menyebabkan kebutuhan air bersih meningkat drastis.

 

Saat itu, Sungai Kaligarang mulai mengalami penurunan kualitas, sementara sumur-sumur warga tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Pemerintah Hindia Belanda kemudian melakukan pencarian sumber air baru di kawasan pegunungan.

 

Pencarian tersebut membuahkan hasil dengan ditemukannya dua mata air utama di lereng Gunung Ungaran, yakni Kalidoh Besar dan Kalidoh Kecil.

 

Pembangunan sistem penyediaan air dimulai pada tahun 1923 dan baru rampung pada 1932. Hebatnya, teknologi yang digunakan kala itu sudah menerapkan sistem gravitasi alami. Tanpa pompa dan tanpa listrik, air dari pegunungan mengalir sendiri menuju reservoir sebelum didistribusikan ke wilayah Ungaran, Semarang Tengah, hingga Semarang Timur.

 

Hingga kini, bangunan peninggalan tahun 1932 tersebut masih berdiri dan tetap menjalankan fungsinya sebagai sumber air bersih bagi masyarakat.

 

Menjadi Aset Penting PDAM Kabupaten Semarang

Seiring perjalanan waktu, pada tahun 1979 pengelolaan Kalidoh Kecil diserahkan kepada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Semarang.

 

Kini, Kalidoh menjadi salah satu sumber air baku utama yang dikelola melalui kantor cabang Ungaran. Keberadaan mata air ini menjadi aset strategis yang menopang pelayanan air bersih bagi masyarakat Kabupaten Semarang.

 

Stabilnya debit air sepanjang tahun menjadikan Kalidoh sebagai salah satu sumber air andalan, bahkan ketika musim kemarau panjang melanda.

 

Air Pegunungan yang Diakui Paling Enak

Keistimewaan Kalidoh terletak pada kualitas airnya.

Air berasal langsung dari kawasan pegunungan Ungaran dan selama puluhan tahun mengalami proses penyaringan alami melalui lapisan tanah vulkanik. Hasilnya adalah air yang jernih, dingin, tidak berbau, serta memiliki rasa yang khas dan terasa manis alami.

 

Berbeda dengan banyak instalasi air minum lain yang harus melalui proses pengolahan lengkap menggunakan kaporit, tawas, hingga filtrasi berlapis, air Kalidoh hanya membutuhkan penampungan dan desinfeksi ringan sebelum didistribusikan kepada pelanggan.

 

Tak heran jika sejak dahulu masyarakat Ungaran memiliki ungkapan yang masih sering terdengar hingga sekarang:

 

"Air Kalidoh paling enak dan paling sehat."

 

Kualitas premium yang berpadu dengan biaya produksi yang relatif rendah turut menjadi salah satu faktor yang mendukung kinerja PDAM Kabupaten Semarang sehingga masuk kategori sehat berdasarkan data NAWASIS Kementerian PUPR.

 

Dikelilingi Pepohonan Berusia Ratusan Tahun

Kawasan bron Kalidoh yang dibangun pada 1932 juga memiliki kekayaan ekologis yang luar biasa.

 

Berbagai pohon besar seperti waringin, kemuning, kinalu, dan sejumlah tanaman langka berusia ratusan tahun masih tumbuh kokoh mengelilingi sumber mata air.

 

Akar pepohonan tersebut berfungsi mengikat tanah, menjaga cadangan air, serta menciptakan keseimbangan ekosistem. Keberadaan hutan kecil alami inilah yang turut menjaga kemurnian air Kalidoh selama puluhan tahun.

 

Mbah Godek, Kearifan Lokal Penjaga Mata Air

Selain nilai sejarah dan ekologinya, Kalidoh juga menyimpan cerita yang hidup di tengah masyarakat.

 

Warga sekitar meyakini adanya sosok gaib yang dikenal dengan nama Mbah Godek, seorang juru kunci tak kasat mata berjenggot panjang yang dipercaya menjaga sumber mata air dari kerusakan dan pencemaran.

 

Terlepas dari benar atau tidaknya kisah tersebut, cerita tentang Mbah Godek telah menjadi bagian dari kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Pesan yang terkandung di dalamnya sangat jelas, yakni mengajarkan masyarakat untuk menghormati alam dan menjaga kelestarian sumber kehidupan.

 

Warisan 1932 yang Menjadi Tanggung Jawab Bersama

Kalidoh bukan sekadar bangunan tua peninggalan kolonial. Ia adalah warisan sejarah, warisan lingkungan, sekaligus warisan sosial yang telah menghidupi masyarakat selama hampir satu abad.

 

Airnya digunakan untuk minum, mandi, mencuci, hingga menjadi sumber utama pelayanan air bersih bagi ribuan pelanggan.

 

Tantangan ke depan adalah menjaga kawasan sekitar tetap hijau, mencegah pencemaran, serta merawat bangunan bersejarah tahun 1932 agar tetap lestari bagi generasi mendatang.

 

Sebab, seperti yang diungkapkan banyak warga setempat, Kalidoh bukan hanya sebuah mata air.

 

Kalidoh adalah tempat kenangan.

Ia adalah "ibu" yang setia mengalirkan kehidupan dari lereng Gunung Ungaran hingga jauh ke berbagai penjuru.

 

Melalui dokumentasi dan pemberitaan ini, semoga semakin tumbuh kesadaran bahwa air adalah kehidupan. Dan Kalidoh 1932 merupakan salah satu warisan paling berharga yang wajib dijaga bersama, agar alirannya tetap menghidupi anak cucu di masa yang akan datang. 

Almassaka Nusantara
Chat with us on WhatsApp